Anomali Efek Suku Bunga

Suku bunga terdiri dari beberapa unsur diantaranya Biaya Operasional, Cost of Fund dan Nilai Resiko. Dan Suku bunga Bank Indonesia sudah dirubah benchmarknya menjadi BI Repo Rate dimana agar patokan suku bunga tahunan menjadi mingguan dan bersifat jaminan antar bank perminggu sehingga bank bisa mendapat funding secara cepat. Hal ini membuat sensitifitas Bunga semakin di lunturkan sebagai patokan. Terbukti tujuan pemerintah dimana penurunan BI rate membuat masyarakat semakin banyak keluar dari deposito. Sejatinya dana keluar tersebut akan masuk ke sektor produktif dan menggerakkan ekonomi riil. Akan tetapi inflasi menunjukkan terus penurunan dan didominasi komoditas pangan. Dan roda perekonomian semakin lesu jika dilihat dari indikator GDP semakin melandai turun dari tahun ke tahun. Ada apa dengan masyarakat Indonesia disaat uang keluar dari bank seharusnya masuk ke sektor riil. Nyatanya hari demi hari penemuan OJK terhadap investasi “bodong” semarak diberitakan dimulai dari emas, MLM, money game, unit koperasi hingga sekuritas yang menjual investasi fix rate dari 10% perbulan hingga 1% perbulan. Aneh kan ? masyarakat kita lebih suka uang di tempatkan di investasi pasif terlebih sektor properti lesu (properti dianggap safe heaven selama ini oleh masyarakat). Mungkin budaya masyarakat melatarbelakangi dimana “main aman” lebih dipilih dibanding sesuatu yang beresiko. Demografi masyarakat padat di pulau jawa dan sosial struktur dimana jumlah pegawai ketimpang dibanding pengusaha menjadi landasan kuat fenomena anomali ekonomi dimana jika di negara maju suku bunga turun seharusnya sektor riil bergerak tetapi tidak di negara kita. Ketika tawaran bunga fix 13%-120% setahun lebih dipercaya dibanding bank yang tersistem mereka menaruh kepercayaan tinggi terhadap badan atau lembaga yang menawarkan. Ketika dana tidak kembali mereka menuntut uang yang diserahkan padahal dari awal menempatkan masyarakat tidak bertanya secara kritis dikemanakan dana mereka dan percaya iming-iming marketing dan janji. Mungkin ini yang dikhawatirkan dari salah satu bahaya riba “menaruh kepastian di depan mata tanpa melihat dengan mata”.

Tetangga oh tetangga

Tak..tak..tak…Duk…duk…sreeeeeeeeeeenggggggggggggggggg….

Kebayang gak kalau bangun pagi atau mau aktifitas di rumah ada suara seperti itu?

Yap ..bener …tetangga kita yang lain sedang renovasi rumah lagi…setelah beberapa minggu lalu ada yang lain bongkar kamar yang proyeknya berantai hingga berminggu-minggu uda kaya puzzle

OKAY…hak anda memang yang punya rumah sedang punya Uang untuk renovasi…

OKAY…renovasi dimana yang gak bising?

OKAY..mumpung musim kemarau nih biar tidak tertunda akibat hujan…

TAPI saya juga punya HAK donk…mendapatkan kenyamanan

TAPI saya juga punya HAK donk…untuk tidak capek ngepel rumah yang uda berdebu secara saya tidak di komplek mewah yang rapi dan rindang

TAPI saya juga punya HAK donk….mendapatkan keramahan bertetangga dengan saling toleransi

susah apa yang “getting permission” untuk hal-hal seperti ini …

when something getting complex we can exclude become simple

it’s not about RIGHT and OBLIGATION

sederhana kok kita tidak lagi memiliki TENGGANG RASA dan KERAMAHAN….

ini terjadi gak cuman di lingkungan tempat tinggal…jalanan atau lingkungan kerja bahkan di semua sektor kehidupan

mungkin kalau dipersentasekan sekitar 60% orang sudah tidak PEDULI sesama manusia yang lain

tidak heran kebiasaan yang seperti ini lama kelamaan menjadi BUDAYA nih…

so human become less …..alias merendahkan manusia itu sendiri dari kodratnya sebagai MAKHLUK DERAJAT TERTINGGI

VALUE of Money

Hallo Manusia,

Siapa  yang tidak menginginkan “Uang“?

Ada orang berkata juga uang bukan segalanya tetapi tanpa uang kita bisa berbuat segalanya. Berdasarkan literatur uang ditemukan perkiraan 1000 tahun sebelum masehi di Yunani. Entah kapan itu ditemukan saya tidak ingin memperdebatkan perihal tersebut.

Baru-baru ini pergerakan ekonomi dunia bergejolak dikarenakan mata uang China di devaluasi sehingga membuat mata uang dunia lainnya berfluktuatif. Memang dunia ini saling terhubung dari segi sektor riil dimana ekspor impor antar negara terjadi maupun segi sektor non riil yaitu nilai tukar mata uang antar negara. Alasan  awal perdagangan menggunakan mata uang adalah memudahkan “transaksi” akan tetapi seiring dengan waktu mata uang bisa dijadikan derivatif sehingga bisa di perjual-belikan tersendiri tanpa ada kegiatan riil perdagangan.

Dimulai dari efek tersebut uang tidak lagi menjadi alat tukar konvensional bahkan uang bisa menjadi “Senjata” dalam menekan antar negara. Uang juga bisa dijadikan parameter harga diri sebuah negara jika nilainya rendah terhadap mata uang lainnya maka negara tersebut terbilang “bergantung terhadap negara lain atau lemah”.

Semakin uang ini memiliki peran yang begitu penting maka setiap tahun diumumkan siapa-siapa yang memiliki “Uang” terbanyak di dunia dan di setiap negara. Semua orang dipertontonkan agar uang menjadi parameter akan kesuksesan,kesejahteraan bahkan kebahagiaan.

Kemudian kelak uang akan bisa turun begitu dalam hanya akibat nilai nominalnya turun drastis sebut saja pasar saham, valas dan lainnya. Orang-orang dibuat pusing oleh karena Uang jatuh dalam hanya karena “Nilai Nominal Angkanya turun” tanpa ada manfaat yang dikeluarkan.

Bahkan baru-baru ini ada seorang wanita di sebuah negeri men-sayembarakan dirinya yang CaNtiK untuk di pinang oleh Pengusaha Kaya senilai pendapatan tertentu. Dan anehnya tidak ada yang mau meminang perempuan tersebut hingga suatu saat ia mendapat balasan sayembara oleh seorang finansial menjawab dimana keCaNtiKan dirinya dinilai akan terus turun sedangkan ia tidak mau berinvestasi Uangnya untuk sesuatu yang PASTI turun.

Aneh tapi nyata, uang memang dibuat oleh manusia menjadi segalanya. Jika dipikir-pikir dunia ini sempit dan uang berpindah dari satu tempat ke tempat lain oleh karena transaksi dan sering raib hanya karena nilai nominalnya turun. Ada yang memiliki uang banyak dan ada yang memiliki uang sedikit. Bagi yang memiliki uang banyak maka nilai uang semakin “hambar” layaknya hukum ekonomi dimana setiap hari kita makan apel maka kelezatan rasa apel semakin lama semakin turun. Dan sebaliknya siapa-siapa yang memiliki uang sedikit maka uang dinilai selayaknya air sungai yang mengalir di gurun pasir yang tandus.

Manusia hidup hanya sementara akankah uang ini bisa menjadi berkah atau binasa tanpa ada artinya dimana kelak kita akan DINILAI oleh Yang Maha Kuasa bukan oleh manusia.

Memanusiakan Manusia

Kali ini saya ingin mengajak realitas SUKU AGAMA RAS dan Antar GOLONGAN (SARA) di Indonesia yang digadang-gadang merupakan Negara Bhineka Tunggal Ika. Mungkin bisa kita liat memang saat ini kita sudah tidak lagi memanggil istilah China atau Encek secara negative kepada kawan-kawan lingkungan sekitar kita. Dahulu kasus 1998 membuat shock kebhinekaan di Indonesia bisa saja orang berkata akibat ekonomi dan diskriminasi yang terjadi selama orde baru. Dahulu pernah terjadi Indonesia pengusiran, penutupan sekolah etnis, penghapusan nama etnis dan sebagainya yang dilakukan baik dari pemerintah maupun warga Indonesia asli pribumi. Hal ini akan membekas di warga keturunan secara turun temurun dikarenakan konflik horizontal ini. Akan tetapi kita juga patut melihat apakah warga keturunan juga sudah mengikuti kultur yang ada di Indonesia secara fundamental dimana dapat kita lihat masih ada hal-hal nyata yang membuat skeptic satu sama lain misalnya : warga keturunan masih menggunakan bahasa asal mereka bukan bahasa Indonesia jika berbicara sesama keturunan, menyekolahkan anak tidak di sekolah Negeri, menikahkan anak sesama warga keturunan, tinggal di komplek-komplek yang mayoritas warga keturunan bahkan perkantoran pula banyak yang mengangkat jajaran petinggi dari keturunan.

Mungkin ini saatnya Indonesia belajar dari bangsa lain dimana kasus multi cultural juga terjadi di AMERIKA atau daerah terdekat kita SINGAPURA dan MALAYSIA. Betapa indahnya jika melihat di AMERIKA orang kulit hitam bisa menjadi penyanyi sukses sampai politisi sukses, terharunya orang SINGAPURA menghargai gelas untuk muslim di RUMAH SAKIT SGH (Singapore General Hospital) dan sejuknya melihat keteraturan hidup bisa membuat kehidupan saling menghargai seharusnya itu basis kita hidup bersama di wilayah tertentu serta seharusnya keberagaman ini menjadikan INDONESIA BANGSA yang kuat selayaknya kertas yang diwarna-warnai akan membuat bercorak dan tidak monoton. INDONESIA seharusnya bangga akan 300 lebih SUKU dan etnis yang ada didalamnya. Andaikan hal tersebut diwujudkan pada keseharian kita dimana PNS,TNI dan aparat juga ada orang keturunan, Sekolah negeri terdapat orang keturunan dan sebaliknya sekolah swasta juga ada orang pribumi. Kita tidak bisa menghilangkan warna kulit, dialek, kelebaran mata dan fisik kita akan tetapi kita bisa me-MANUSIAKAN MANUSIA.

Budaya yang salah atau manusia nya yang tidak berkembang?

Sejenak kita bahas tentang budaya yang diambil dari bahasa sansekerta buddhayah merupakan bentuk jamak dari buddhi alias akal atau budi. Dikutip dari wikipedia dalam bahasa latin budaya di interpretasikan mengolah atau mengerjakan. Secara umum dapat diartikan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak unsur yang mempengaruhi budaya diantaranya : agama, politik, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Lantas mari kita tengok budaya di negeri tercinta kita yang cukup menggelitik saya :

 

  1. setiap mau acara hari besar Agama pasti harga-harga akan naik sehingga inflasi sulit dikontrol serta jalanan jadi macet dimana-mana

  2. setiap mau berpolitik memerlukan uang dan ketika terjadi perbedaan maka tidak ada toleransi , kebiasaan berdebat secara logis/baik dikesampingkan dan cenderung jika sudah mendapat amanah berpolitik maka kekuasaan segala-galanya

  3. coba anda berpindah tempat ke daerah yang lain yang kental dengan logat bahasa dan anda berbeda, yang terjadi ketika ada percakapan adalah pertanyaan : “aslinya orang mana?”

  4. ketika kebutuhan konsumeris sudah diutamakan maka perlombaan mengejar kemakmuran merupakan hal utama, contoh : kendaraan yang anda miliki pasti sudah barang tentu merupakan barometer kesuksesan hidup anda

  5. pada umumnya dikantor/tempat kerja/sekolah hirarki atasan-bawahan atau senior-junior merupakan hal yang lumrah sebagai dasar alasan mematikan perbedaan pendapat atau pemikiran tanpa dasar logis perihal perselisihan itu sendiri dan cenderung mengedepankan kesopanan atau kepatutan ekspresi ketika kita berdebat/berselisih. Bahkan menghindari perbedaan pendapat itu lebih baik dimata sebagian orang dan diam ditempat dengan potensi yang tak berkembang

 

Banyak lagi hal sederhana yang saya amati di lingkungan selama ini saya tinggal dan berkomunikasi. Pertanyaannya adalah dimana akal manusia yang seharusnya terus berkembang sehingga budaya-budaya terdahulu seharusnya di kritisi dan diubah. Orang sekarang tidak lagi menggunakan logika dalam berbudaya tapi sebaliknya menggunakan alasan “semua orang juga gitu”. Kenapa asas suara terbanyak jadi dasar pengambilan keputusan dimanakah unsur musyawarah mufakat? Apakah hal ini hanya retorika bernegara? Ketika anda kumpul dalam keluarga maka dibahas si “anu” uda jadi ini ya…si “anu” uda bisa kesana-sini…si“anu” hebat ya uda punya ini itu. Sehingga hal diatas menghilangkan esensi dalam bermasyarakat dan berbudaya. Tidak ada lagi orang melihat ketika seorang koruptor keluar dari penjara hal itu merupakan hal terhina karena dia sudah mengerdilkan kesejahteraan rakyat. Tidak ada lagi seorang istri atau orang tua mempertanyakan “dari mana suamiku atau anakku, engkau memperoleh ini dan itu.

Keadilan di mata manusia

Konflik berkepanjangan PALESTINA dan ISRAEL membuat saya GERAM. Bagaimana tidak, ketika anak-anak, perempuan dan warga sipil di bantai secara brutal oleh peluru-peluru senjata serba canggih ISRAEL menjadi korban atas ketidak-adilan manusia di muka bumi. Ini merupakan wujud nyata bahwa sifat dasar manusia adalah saling berbuat kerusakan dan bertumpah darah. Alasan apapun menurut saya tidak dapat dibenarkan dalam hal ini baik karena konflik teritorial ataupun konflik misi agama.

 

Lantas apa yang diperbuat dunia menyaksikan konflik ini? Mari kita bahas dari BADAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (PBB) lembaga yang menaungi berbagai bentuk ikatan antar negara di dunia ini. Ya…mereka memakai standar ganda ketika anggota mereka ada yang berbuat invasi ke sebuah negara dengan alasan “teroris, defensif, senjata kimia hingga mencoba mengesankan berbuat mulia melepaskan warga negara lain dari tirani / pemimpin diktator” dan PBB tidak melakukan pelarangan tegas bahkan angkatan militer NATO yang terdiri negara-negara maju malah ikut membantu. Korban yang berjatuhan dari sipil tetap bukan masalah untuk mereka dengan konferensi pers tertentu mereka berhasil menyulap dunia “bungkam” tak berbuat apa-apa. Bandingkan jika warga atau prajurit negara-negara maju berguguran maka kemarahan itu akan membuat mereka kebakaran jenggot dan menjadi alasan mereka bertindak menembus aturan main.

 

Sekarang kita lihat apa yang menjadi dasar ISRAEL membalas serangan HAMAS adalah kekonyolan serupa pembahasan diatas. Tiba-tiba serangan ISRAEL dibolehkan melakukan penghancuran di PALESTINA, restu diperoleh dari negara-negara maju yang back up dan badan PBB hanya bisa mengutuk tanpa ada tindakan. Dimana badan regulasi dunia? Apakah perbuatan ISRAEL terhadap PALESTINA tidak cukup dikatakan “PEMBANTAIAN” ? . Mengapa NATO tidak bertindak seperti biasanya mereka bergerak seakan-akan menjadi POLISI MILITER DUNIA dan pahlawan penegak KEADILAN.

 

Tidak ada salahnya sebagian orang berpendapat dunia tidak adil atau dunia ini sandiwara. Mari kita yakini bahwa keadilan yang hakiki ada di “tangan” TuhanYME. Akan nampak ketika sang Maha ADIL sudah menunjukkan yang mana adil dan tidak. Tiada lagi pembenaran semua disana-sini dan mereka yang berbuat tidak adil akan menyesal akan perbuatan mereka selama ini seraya mengatakan andai dahulu kami tidak seperti itu. Sedangkan berbahagia lah…para korban-korban ketidak adilan manusia karena sesungguhnya Tuhan telah menyiapkan tempat yang ternyaman selamanya untuk anda meski anda harus melalui hal yang terberat di dunia.

 

Ketika rakyat memilih

bendera

Tanggal 9 Juli 2014 di Indonesia berlangsung Pemilu Presiden secara langsung yang ketiga. Partisipasi pemilih dinilai cukup meningkat oleh peneliti pemilu sehubungan dengan maraknya pemberitaan media sosial dan tayangan berita televisi atau media cetak. Memang kali ini hanya 2 kandidat yang bertarung dan melibatkan berbagai partai politik. Baru kali ini sejak saya mengikuti Pemilihan Umum di Indonesia sejak tahun 90an saya melihat animo masyarakat sangat tinggi. Terlebih peranan media internet twitter,facebook, instagram, path dan lainnya membuat suasana pemilu bertambah panas. Media pun ikut berkubu menjadi dua poros yang berseteru mengunggulkan pasangan tertentu dan merendahkan pasangan lainnya. Semua itu menjadi pertanyaan bagi saya sudahkah rakyat ini ketika diberi kebebasan memilih sebagai anugerah YME dipergunakan seoptimal mungkin. Beberapa pertanyaan muncul dibenak saya melihat fenomena yang ada :

1. Kok bisa ada yang menganggap Pemilihan Presiden tidak pengaruh ke nasib mereka?

terus kalau biaya sekolah anak mereka naik nyalahin Pemerintah, kalau nasib anaknya nyari pekerjaan susah Pemerintah juga yang salah?

2. Kok bisa milih berdasarkan retorika janji dan penampilan belaka?

Sebenernya kriteria pemimpin Pemerintahan itu apa ya..kok jadi singkat gitu

3. Kok bisa pemilu kalo dibahas jadi perkelahian, putus pertemanan bahkan orang terdekat/keluarga karena perbedaan pilihan?

Saya rasa budaya diskusi harus dibiasakan, jangan suka memaksakan tapi bahas berdasarkan data dan fakta

Terlepas dari itu yang terpenting selanjutnya kita harus menjaga ketertiban,perdamaian dan kejujuran. Jangan lupa kalau yang kamu pilih tidak beres “ya…jangan ulangi kesalahan yang sama”