Memanusiakan Manusia

Kali ini saya ingin mengajak realitas SUKU AGAMA RAS dan Antar GOLONGAN (SARA) di Indonesia yang digadang-gadang merupakan Negara Bhineka Tunggal Ika. Mungkin bisa kita liat memang saat ini kita sudah tidak lagi memanggil istilah China atau Encek secara negative kepada kawan-kawan lingkungan sekitar kita. Dahulu kasus 1998 membuat shock kebhinekaan di Indonesia bisa saja orang berkata akibat ekonomi dan diskriminasi yang terjadi selama orde baru. Dahulu pernah terjadi Indonesia pengusiran, penutupan sekolah etnis, penghapusan nama etnis dan sebagainya yang dilakukan baik dari pemerintah maupun warga Indonesia asli pribumi. Hal ini akan membekas di warga keturunan secara turun temurun dikarenakan konflik horizontal ini. Akan tetapi kita juga patut melihat apakah warga keturunan juga sudah mengikuti kultur yang ada di Indonesia secara fundamental dimana dapat kita lihat masih ada hal-hal nyata yang membuat skeptic satu sama lain misalnya : warga keturunan masih menggunakan bahasa asal mereka bukan bahasa Indonesia jika berbicara sesama keturunan, menyekolahkan anak tidak di sekolah Negeri, menikahkan anak sesama warga keturunan, tinggal di komplek-komplek yang mayoritas warga keturunan bahkan perkantoran pula banyak yang mengangkat jajaran petinggi dari keturunan.

Mungkin ini saatnya Indonesia belajar dari bangsa lain dimana kasus multi cultural juga terjadi di AMERIKA atau daerah terdekat kita SINGAPURA dan MALAYSIA. Betapa indahnya jika melihat di AMERIKA orang kulit hitam bisa menjadi penyanyi sukses sampai politisi sukses, terharunya orang SINGAPURA menghargai gelas untuk muslim di RUMAH SAKIT SGH (Singapore General Hospital) dan sejuknya melihat keteraturan hidup bisa membuat kehidupan saling menghargai seharusnya itu basis kita hidup bersama di wilayah tertentu serta seharusnya keberagaman ini menjadikan INDONESIA BANGSA yang kuat selayaknya kertas yang diwarna-warnai akan membuat bercorak dan tidak monoton. INDONESIA seharusnya bangga akan 300 lebih SUKU dan etnis yang ada didalamnya. Andaikan hal tersebut diwujudkan pada keseharian kita dimana PNS,TNI dan aparat juga ada orang keturunan, Sekolah negeri terdapat orang keturunan dan sebaliknya sekolah swasta juga ada orang pribumi. Kita tidak bisa menghilangkan warna kulit, dialek, kelebaran mata dan fisik kita akan tetapi kita bisa me-MANUSIAKAN MANUSIA.

Iklan