Budaya yang salah atau manusia nya yang tidak berkembang?

Sejenak kita bahas tentang budaya yang diambil dari bahasa sansekerta buddhayah merupakan bentuk jamak dari buddhi alias akal atau budi. Dikutip dari wikipedia dalam bahasa latin budaya di interpretasikan mengolah atau mengerjakan. Secara umum dapat diartikan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak unsur yang mempengaruhi budaya diantaranya : agama, politik, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Lantas mari kita tengok budaya di negeri tercinta kita yang cukup menggelitik saya :

 

  1. setiap mau acara hari besar Agama pasti harga-harga akan naik sehingga inflasi sulit dikontrol serta jalanan jadi macet dimana-mana

  2. setiap mau berpolitik memerlukan uang dan ketika terjadi perbedaan maka tidak ada toleransi , kebiasaan berdebat secara logis/baik dikesampingkan dan cenderung jika sudah mendapat amanah berpolitik maka kekuasaan segala-galanya

  3. coba anda berpindah tempat ke daerah yang lain yang kental dengan logat bahasa dan anda berbeda, yang terjadi ketika ada percakapan adalah pertanyaan : “aslinya orang mana?”

  4. ketika kebutuhan konsumeris sudah diutamakan maka perlombaan mengejar kemakmuran merupakan hal utama, contoh : kendaraan yang anda miliki pasti sudah barang tentu merupakan barometer kesuksesan hidup anda

  5. pada umumnya dikantor/tempat kerja/sekolah hirarki atasan-bawahan atau senior-junior merupakan hal yang lumrah sebagai dasar alasan mematikan perbedaan pendapat atau pemikiran tanpa dasar logis perihal perselisihan itu sendiri dan cenderung mengedepankan kesopanan atau kepatutan ekspresi ketika kita berdebat/berselisih. Bahkan menghindari perbedaan pendapat itu lebih baik dimata sebagian orang dan diam ditempat dengan potensi yang tak berkembang

 

Banyak lagi hal sederhana yang saya amati di lingkungan selama ini saya tinggal dan berkomunikasi. Pertanyaannya adalah dimana akal manusia yang seharusnya terus berkembang sehingga budaya-budaya terdahulu seharusnya di kritisi dan diubah. Orang sekarang tidak lagi menggunakan logika dalam berbudaya tapi sebaliknya menggunakan alasan “semua orang juga gitu”. Kenapa asas suara terbanyak jadi dasar pengambilan keputusan dimanakah unsur musyawarah mufakat? Apakah hal ini hanya retorika bernegara? Ketika anda kumpul dalam keluarga maka dibahas si “anu” uda jadi ini ya…si “anu” uda bisa kesana-sini…si“anu” hebat ya uda punya ini itu. Sehingga hal diatas menghilangkan esensi dalam bermasyarakat dan berbudaya. Tidak ada lagi orang melihat ketika seorang koruptor keluar dari penjara hal itu merupakan hal terhina karena dia sudah mengerdilkan kesejahteraan rakyat. Tidak ada lagi seorang istri atau orang tua mempertanyakan “dari mana suamiku atau anakku, engkau memperoleh ini dan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s